Perekonomian Indonesia - Kemiskinan di Indonesia
Artikel
KEMISKINAN di INDONESIA
Secara harfiah, kemiskinan
berasal dari kata dasar miskin yang artinya tidak berharta-benda
(Poerwadarminta, 1976). Dalam pengertian yang lebih luas, kemiskinan dapat
dikonotasikan sebagai suatu kondisi ketidakmampuan, baik secara individu,
keluarga, maupun kelompok sehingga kondisi ini rentan terhadap timbulnya
permasalahan sosial yang lain.
Kemiskinan dipandang
sebagai kondisi seseorang atau sekelompok orang, laki-laki dan perempuan yang
tidak terpenuhi hak-hak dasarnya secara layak untuk menempuh dan mengembangkan
kehidupan yang bermartabat. Dengan demikian, kemiskinan tidak lagi dipahami
hanya sebatas ketidak mampuan ekonomi, tetapi juga kegagalan pemenuhan hak-hak
dasar dan perbedaan perlakuan bagi seseorang atau sekelompok orang, dalam
menjalani kehidupan secara bermartabat.
Hidup miskin bukan hanya
berarti hidup di dalam kondisi kekurangan sandang, pangan, dan papan. Akan
tetapi, kemiskinan juga berarti akses yang rendah dalam sumber daya dan aset
produktif untuk memperoleh kebutuhan-kebutuhan hidup, antara lain: ilmu
pengetahuan, informasi, teknologi, dan modal.
Kemiskinan merupakan
masalah yang ditandai oleh berbagai hal antara lain rendahnya kualitas hidup
penduduk, terbatasnya kecukupan dan mutu pangan, terbatasnya dan rendahnya mutu
layanan kesehatan, gizi anak, dan rendahnya mutu layanan pendidikan. Selama ini
berbagai upaya telah dilakukan untuk mengurangi kemiskinan melalui penyediaan
kebutuhan pangan, layanan kesehatan dan pendidikan, perluasan kesempatan kerja
dan sebagainya.
Berbagai upaya tersebut
telah berhasil menurunkan jumlah penduduk miskin dari 54,2 juta (40.1%) pada
tahun 1976 menjadi 22,5 juta (11.3%) pada tahun 1996. Namun, dengan terjadinya
krisis ekonomi sejak Juli 1997 dan berbagai bencana alam seperti gempa bumi dan
tsunami pada Desember 2004 membawa dampak negatif bagi kehidupan masyarakat,
yaitu melemahnya kegiatan ekonomi, memburuknya pelayanan kesehatan dan
pendidikan, memburuknya kondisi sarana umum sehingga mengakibatkan bertambahnya
jumlah penduduk miskin menjadi 47,9 juta (23.4%) pada tahun 1999. Kemudian pada
5 tahun terakhir terlihat penurunan tingkat kemiskinan secara terus menerus dan
perlahan-lahan sampai mencapai 36,1 juta (16.7%) di tahun 2004.
Kini di Indonesia jerat
kemiskinan itu makin akut. Jumlah kemiskinan di Indonesia pada Maret 2009 saja
mencapai 32,53 juta atau 14,15 %. Kemiskinan tidak hanya terjadi di perdesaan
tapi juga di kota-kota besar seperti di Jakarta. Mari kita cermati kondisi
masyarakat dewasa ini. Banyak dari mereka yang tidak mampu memenuhi kebutuhan
sandang, pangan, dan papan. Bahkan, hanya untuk mempertahankan hak-hak dasarnya
serta bertahan hidup saja tidak mampu. Apalagi mengembangkan hidup yang
terhormat dan bermartabat.
Krisis ekonomi yang
berkepanjangan menambah panjang deret persoalan yang membuat negeri ini semakin
sulit keluar dari jeratan kemiskinan. Hal ini dapat kita buktikan dari
tingginya tingkat putus sekolah dan buta huruf. Hingga 2006 saja jumlah
penderita buta aksara di Jawa Barat misalnya mencapai jumlah 1.512.899. Dari
jumlah itu 23% di antaranya berada dalam usia produktif antara 15-44 tahun.
Belum lagi tingkat pengangguran yang meningkat “signifikan.” Jumlah
pengangguran terbuka tahun 2007 di Indonesia sebanyak 12,7 juta orang. Ditambah
lagi kasus gizi buruk yang tinggi, kelaparan/busung lapar, dan terakhir,
masyarakat yang makan “Nasi Aking.”
Di Nusa Tenggara Timur (NTT), 2000 kasus balita kekurangan gizi dan 206 anak di bawah lima tahun gizi buruk. Sedangkan di Bogor selama 2005 tercatat sebanyak 240 balita menderita gizi buruk dan 35 balita yang statusnya marasmus dan satu di antaranya positif busung lapar. Sementara di Jakarta Timur sebanyak 10.987 balita menderita kekurangan gizi. Dan, di Jakarta Utara menurut data Pembinaan Peran Serta Masyarakat Kesehatan Masyarakat [PPSM Kesmas] Jakut pada Desember 2005 kasus gizi buruk pada bayi sebanyak 1.079 kasus.
Di Nusa Tenggara Timur (NTT), 2000 kasus balita kekurangan gizi dan 206 anak di bawah lima tahun gizi buruk. Sedangkan di Bogor selama 2005 tercatat sebanyak 240 balita menderita gizi buruk dan 35 balita yang statusnya marasmus dan satu di antaranya positif busung lapar. Sementara di Jakarta Timur sebanyak 10.987 balita menderita kekurangan gizi. Dan, di Jakarta Utara menurut data Pembinaan Peran Serta Masyarakat Kesehatan Masyarakat [PPSM Kesmas] Jakut pada Desember 2005 kasus gizi buruk pada bayi sebanyak 1.079 kasus.
Sebagaimana kita ketahui
jumlah pengangguran terbuka tahun 2007 saja sebanyak 12,7 juta orang. Jumlah
yang cukup “fantastis” mengingat krisis multidimensional yang sedang dihadapi
bangsa saat ini. Adapun sasaran penanggulangan kemiskinan pada tahun 2007
adalah:
1. Berkurangnya penduduk
miskin hingga mencapai 14.4% pada akhir tahun 2007.
2. Meningkatnya jalur
kesempatan masyarakat miskin terhadap pelayanan dasar terutama pendidikan dan
kesehatan.
3. Berkurangnya beban
pengeluaran masyarakat miskin terutama untuk pendidikan dan kesehatan, serta
kecukupan pangan dan gizi.
4. Meningkatnya kualitas
keluarga miskin.
5. Meningkatnya pendapatan
dan kesempatan berusaha kelompok masyarakat miskin, termasuk meningkatnya
kesempatan masyarakat miskin terhadap permodalan, bantuan teknis, dan berbagai
sarana dan prasarana produksi.
Bangsa Indonesia perlu
mewaspadai kondisi kemiskinan yang terjadi saat ini. Walaupun secara
statistik tahun 2012 terjadi penurunan kemiskinan menjadi 28,59 juta orang atau
11,6%, secara kualitas kemiskinan justru mengalami involusi dan
cenderung semakin kronis, terutama di wilayah pedesaan yang meningkat
hampir dua kali lipat selama tahun 2012.
Badan Pusat Statistik
mencatat, indeks keparahan pada Maret 2012 sebesar 0,36%. Padahal, pada
September 2012 menjadi 0,61%. Kenaikan indeks ini menunjukan dua hal, yaitu
semakin melebarnya kesenjangan antarpenduduk miskin dan juga semakin rendahnya
daya beli dari masyarakat kelompok miskin karena ketidakmampuan mereka memenuhi
kebutuhan dasar untuk hidup sampai dengan batas pengeluaran garis kemiskinan
yang hanya sebesar Rp 259.520 per bulan. Kondisi penduduk miskin di
wilayah pedesaan yang semakin parah ini, diakibatkan karena tingginya tingkat
inflasi wilayah pedesaan, yakni 5,08%, jika dibandingkan dengan inflasi
nasional sebesar 4,3% selama tahun 2012.
Inflasi di pedesaan yang
tinggi disumbangkan oleh kenaikan harga-harga bahan makanan, makanan jadi,
perumahan, sandang, dan kesehatan. Sementara, di sisi lain, kenaikan upah yang
diterima buruh tani ataupun buruh hanya antara 1% dan 3% dalam tahun 2012.
Tidak seimbangnya antara kenaikan upah yang diterima dan kenaikan harga
kebutuhan dasar tersebut menjadi salah satu penyebab keadaan kemiskinan di
Indonesia tak berubah banyak dari waktu-ke waktu. Selama 8 tahun penduduk
miskin hanya berkurang rata-rata 7,51 juta setiap tahun. Untuk mempercepat
penurunan kemiskinan, kebijakan penanggulan kemiskinan harus dirumuskan ulang.
Pencapaian swasembada
pangan yang diprioritaskan untuk wilayah pedesaan adalah kata kunci
yang harus dilakukan segera. Pemerintah harus memberikan prioritas yang lebih
kepada petani, terutama dengan melalui program intensifikasi yang bersifat
menyeluruh dan tak partikulatif. Ini harus dimulai dari pengembangan riset dan
teknologi yang berbasis pertanian pangan, pengembangan infrastruktur pertanian,
insentif kepada petani, sampai dengan program industrialisasi perdesaan.
Ditambahkan, dengan
pencapaian swasembada pangan, pemerintah dapat lebih mudah menjaga stabilistas
harga pangan. Stabilitas harga pangan yang terkendali akan mempercepat proses
penurunan kemiskinan karena orang miskin 73,5% pengeluarannya dipergunakan untuk
membeli bahan makanan.
Kesimpulan
1. Kondisi kemiskinan di
Indonesia sangat memprihatinkan. Hal ini ditandai dengan rendahnya kualitas
hidup penduduk, terbatasnya kecukupan dan mutu pangan, terbatasnya dan
rendahnya mutu layanan kesehatan, gizi anak, dan rendahnya mutu layanan
pendidikan. Oleh karena itu, perlu mendapat penanganan khusus dan terpadu dari
pemerintah bersama-sama dengan masyarakat.
2. Faktor penyebab
kemiskinan ada dua, yaitu faktor alami dan faktor buatan. Selain kedua faktor
tersebut ada faktor lain yang menimbulkan kemiskinan, yaitu:
Kurang tersedianya
sarana yang dapat dipakai keluarga miskin secara layak.
Kurangnya dukungan
pemerintah sehingga keluarga miskin tidak mendapatkan haknya atas pendidikan
dan kesehatan yang layak.
Rendahnya minat
masyarakat miskin untuk berjuang mencapai haknya .
Kurangnya dukungan
pemerintah dalam memberikan keahlian.
Wilayah Indonesia yang
sangat luas sehingga sulit bagi pemerintah untuk menjangkau seluruh wilayah
dengan perhatian yang sama.
3. Penanggulangan masalah
kemiskinan diwujudkan oleh pemerintah dalam bentuk Sasaran Pembangunan dan Arah
Kebijakan Pembangunan Tahun 2007. Keberhasilan program menurunkan kemiskinan
tidak akan tercapai tanpa adanya kerja-sama yang baik dan tanggung jawab bersama
antara pemerintah dan masyarakat .
[Dari Berbagai Sumber]
Komentar
Posting Komentar