Tugas Softskill
PEREKONOMIAN
INDONESIA
Presiden yang Memiliki Pengaruh Besar Dalam Perkembangan
Perekonomian Indonesia Mulai Orde Baru sampai Reformasi
Diawal
orde baru ,Soeharto berusaha memperbaiki keadaan ekonomi Indonesia dari keterpurukan,
dan berhasil untuk beberapa lama. Dalam jangka waktu tersebut ,ekonomi
Indonesia berkembang pesat meskipun bersamaan dengan memaraknya praktik KKN yang merajalela
di negara ini , serta kesenjangan sosial antara rakyat yang kaya dan miskin
juga semakin melebar. Kondisi ekonomi Indonesia ketika pak Harto pertama kali
memerintah adalah dengan keadaan ekonomi dengan inflasi sangat tinggi, 650%
setahun. Dengan melihat kondisi tersebut, langkah pertama yang diambil oleh
Soeharto adalah dengan mengendalikan inflasi ,dan ini dikatakan berhasil karena
pak Harto berhasil menekan inflasi menjadi di bawah 15% hanya dalam waktu 2
tahun. Untuk menekan inflasi yang begitu tinggi, Soeharto membuat beberapa
kebijakan yang dilakukan dengan menertibkan anggaran, menertibkan sektor perbankan,
mengembalikan ekonomi pasar, memperhatikan sektor ekonomi, dan merangkul
negara-negara barat untuk menarik modal.
Pada
pertengahan 1980-an
pemerintah mulai menghilangkan hambatan kepada aktivitas ekonomi. Langkah ini
ditujukan utamanya pada sektor eksternal dan finansial dan dirancang untuk
meningkatkan lapangan kerja dan pertumbuhan di bidang ekspor non-minyak. GDP
nyata tahunan tumbuh rata-rata mendekati 7% dari 1987-1997, dan banyak analisis
mengakui Indonesia sebagai ekonomi industri dan pasar utama yang berkembang.
Tingkat
pertumbuhan ekonomi yang tinggi dari 1987-1997 menutupi beberapa kelemahan
struktural dalam ekonomi Indonesia. Sistem legal sangat lemah, dan tidak ada
cara efektif untuk menjalankan kontrak, mengumpulkan hutang, atau menuntut atas
kebangkrutan.
Aktivitas bank sangat sederhana, dengan peminjaman
berdasarkan-"collateral" menyebabkan perluasan dan pelanggaran
peraturan, termasuk batas peminjaman. Hambatan non-tarif, penyewaan oleh
perusahaan milik negara, subsidi domestik, hambatan ke perdagangan domestik,
dan hambatan ekspor seluruhnya
menciptakan gangguan ekonomi.
Krisis
finansial Asia Tenggara yang melanda Indonesia pada akhir
1997 dengan cepat berubah
menjadi sebuah krisis ekonomi dan politik. Respon pertama Indonesia terhadap
masalah ini adalah menaikkan tingkat suku bunga domestik untuk mengendalikan
naiknya inflasi
dan melemahnya nilai tukar rupiah, dan memperketat kebijakan fiskalnya. Pada
Oktober 1997, Indonesia dan International Monetary Fund (IMF) mencapai
kesepakatan tentang program reformasi ekonomi yang diarahkan pada penstabilan
ekonomi makro dan penghapusan beberapa kebijakan ekonomi yang dinilai merusak,
antara lain Program Permobilan Nasional dan monopoli, yang melibatkan anggota
keluarga Presiden Soeharto. Rupiah masih belum stabil dalam jangka waktu yang
cukup lama, hingga pada akhirnya Presiden Suharto terpaksa mengundurkan diri
pada Mei 1998.
Pasca
Suharto (Era Reformasi)
Di bulan Agustus
1998, Indonesia dan IMF menyetujui program pinjaman dana di bawah Presiden B.J Habibie.
Presiden Gus Dur yang terpilih sebagai presiden pada
Oktober 1999
kemudian memperpanjang program tersebut.
Pada 2010 Ekonomi
Indonesia sangat stabil dan tumbuh pesat. PDB bisa dipastikan melebihin Rp 6300
Trilyun meningkat lebih dari 100 kali
lipat dibanding PDB tahun 1980. Setelah India dan China, Indonesia adalah
negara dengan ekonomi yang tumbuh paling cepat di antara 20 negara anggota
Industri ekonomi
Pada masa reformasi ini perekonomian Indonesia ditandai dengan adanya
krisis moneter yang berlanjut terbesar didunia G20.
Pada masa menjadi krisis ekonomi yang sampai saat ini belum menunjukkan
tanda-tanda ke arah pemulihan. Walaupun ada pertumbuhan ekonomi sekitar 6%
untuk tahun 1997 dan 5,5% untuk tahun 1998 dimana inflasi sudah diperhitungkan
namun laju inflasi masih cukup tinggi yaitu sekitar 100%. Pada tahun 1998
hampir seluruh sektor mengalami pertumbuhan negatif, hal ini berbeda dengan
kondisi ekonomi tahun 1999.
Namun sejak masa kepemimpinan Susilo Bambang
Yudhoyono, perekonomian Indonesia mulai membaik. Perekonomian Indonesia boleh
dibilang tengah berada pada masa keemasannya. Krisis global yang terjadi pada
tahun 2008 semakin membuktikan ketangguhan perekonomian Indonesia. Di saat
negara-negara superpower seperti Amerika Serikat dan Jepang berjatuhan,
Indonesia justru mampu mencetak pertumbuhan yang positif sebesar 4,5% pada
tahun 2009.
Pembangunan di era Reformasi ini merupakan suatu
bentuk perbaikan di segala bidang sehingga belum menemukan suatu arah yang
jelas. Pembangunan masih tarik-menarik mana yang harus didahulukan. Namun
setidaknya reformasi telah membawa Indonesia untuk menjadi lebih baik dalam
merubah nasibnya tanpa harus semakin terjerumus dalam kebobrokan moral
manusia-manusia sebelumnya.
Kesimpulannya, setiap pemerintahan yang dijalankan di
negara ini, setiap pemimpin memiliki kebijakan yang berbeda-beda sehingga
pengaruh terhadap perkembangan perekonomian di Indonesia memiliki tingkat
kemunduran ataupun kemajuan yang berbeda-beda. Hal terbesar yang belum mampu
diatasi oleh setiap pemimpin adalah praktik KKN yang belum bisa dihapuskan dari
kehidupan perekonomian Indonesia.
Keadaan
Perekonomian dan Stabilitas Keamanan Indonesia
Stabilisasi perekonomian dari suatu
negara sangat jelas dipengaruhi oleh faktor politik dan keamanan, yang menurut
penulis juga sangat penting ketimbang variabel ekonomi makro lainnya. Tanpa
stabilitas politik dan keamanan yang kondusif dari suatu negara, ekonomi tidak
akan bisa berbuat banyak terutama dalam hubungannya dengan posisi dari suatu
negara dalam memperbaiki variabel-variabel ekonomi. Dalam sejarah umat manusia,
kita dapat mengetahui bagaimana faktor politik dan stabilitas keamanan
memainkan peran yang krusial dalam perekonomian yakni pada saat perang dunia I
dan perang dunia II yang mana semenjak revolusi industri, banyak negara-negara
di Eropa yang kemudian perekonomiannya menjadi maju dan berkembang. Namun
keadaan tersebut berubah total pasca berakhirnya perang dunia II yang telah
membuat sebagian besar negara di Eropa saat itu menjadi kolaps dan mengalami
kebangkrutan ekonomi. Hal ini sejalan dengan Modelski (1996) bahwa perang dan
pertumbuhan ekonomi itu sudah menjadi hubungan sebab akibat, menurutnya dalam
suatu peperangan pasti ada dampaknya terhadap sistem perekonomian dari suatu
negara.
Oleh karenanya pembangunan ekonomi saat ini tidak bisa dilepaskan dari kondisi perpolitikan dan stabilitas keamanan di Indonesia. Pembangunan dalam sektor perekonomian tanpa dibarengi dengan pembangunan dalam sektor yang lain seperti politik dan keamanan, sama saja membangun rumah di atas pasir, jelas stabilisasi perekonomian kita tidak akan bertahan lama. Informasi, teknologi, dan komunikasi yang saat ini berkembang begitu pesat yang coba dikejar oleh bangsa Indonesia malah justru akan menjadi bumerang apabila faktor politik dan keamanan dalam negeri tidak dibangun dengan pondasi yang kokoh. Beberapa negara di Timur Tengah yang dalam beberapa hari belakangan ini telah bermunculan revolusi telah menggangu stabilitas politik dan keamanannya menyebabkan negara tersebut dalam kesulitaan ekonomi, padahal potensi sumber daya alam mereka seperti minyak cukup besar. Oleh sebab itu sangat diyakini bahwa pertumbuhan ekonomi suatu negara termasuk Indonesia sangat dipengaruhi oleh stabilitas politik dan keamanan. Perbaikan system perpolitikan kita serta konsepsi Ketahanan Nasional harus dioperasionalisasikan serta disebarluaskan ke seluruh lapisan masyarakat sehingga diyakini kebenarannya dan pada akhirnya diimplementasikan.
Indonesia yang pada tahun 1998 mengalami instabilitas politik dan keamanan dalam negeri yang kemudian membuat berbagai harga barang kebutuhan pokok menjadi naik dan banyak investor yang mulai menarik investasinya dari Indonesia sehingga menyebabkan krisis. Padahal sebelumnya Indonesia tergolong sebagai macan Asia, yang berarti termasuk dalam negara Asia yang memiliki faktor pertumbuhan ekonomi yang sangat meningkat. Faktor politik dan keamanan tentu saja berada di balik semua itu. Kedua masalah ini mempengaruhi permintaan dan penawaran agregat.
Keamanan yang tidak stabil sangat diyakini telah meruntuhkan permintaan agregat perekonomian Indonesia ketika itu. Dalam situasi seperti Indonesia pada tahun 1998 kita telah menjumpai ciri-ciri ekonomi dalam defresi seperti; menurunnya daya beli secara drastis, lenyapnya minat investasi dan meningkatanya kapasitas yang menganggur di berbagai sektor. Ketidakstabilan politik maupun keamaanan ini juga dapat memicu respons (elastisitas) suplai merosot secara tiba-tiba ketika itu. Ketidakstabilan politik dan keamanan harus dibenahi untuk meningkatkan permintaan. Investasi swasta terganjal oleh confidence bagi para pelaku ekonomi yang semakin menurun. Akibatnya ekonomi Indonesia pada saat itu yang diharapkan tumbuh dan lebih berkualitas hanya dapat meningkat secara marginal dalam nilai. Determinant peningkatan investasi swasta tergantung pada keberhasilan dalam menstimulir situasi politik dan keamanan yang kondusif dalam rangka menghilangkan hambatan sisi supply. Stimulasi sisi supply adalah bagaimana kita dapat menghilangkan hambatan politik dan keamanan.
Politik dan keamanan yang tidak stabil pada hakekatnya akan mendatangkan dua hambatan utama bagi para pelaku ekonomi yaitu premi resiko (risk premium) yang tinggi, dan biaya transaksi (transaction cost) yang tinggi. Premi resiko yang tinggi dan biaya transaksi yang tinggi adalah refleksi dari confidence yang rendah yang diakibatkan oleh tidak stabilnya politik dan keamanan.
Oleh karenanya pembangunan ekonomi saat ini tidak bisa dilepaskan dari kondisi perpolitikan dan stabilitas keamanan di Indonesia. Pembangunan dalam sektor perekonomian tanpa dibarengi dengan pembangunan dalam sektor yang lain seperti politik dan keamanan, sama saja membangun rumah di atas pasir, jelas stabilisasi perekonomian kita tidak akan bertahan lama. Informasi, teknologi, dan komunikasi yang saat ini berkembang begitu pesat yang coba dikejar oleh bangsa Indonesia malah justru akan menjadi bumerang apabila faktor politik dan keamanan dalam negeri tidak dibangun dengan pondasi yang kokoh. Beberapa negara di Timur Tengah yang dalam beberapa hari belakangan ini telah bermunculan revolusi telah menggangu stabilitas politik dan keamanannya menyebabkan negara tersebut dalam kesulitaan ekonomi, padahal potensi sumber daya alam mereka seperti minyak cukup besar. Oleh sebab itu sangat diyakini bahwa pertumbuhan ekonomi suatu negara termasuk Indonesia sangat dipengaruhi oleh stabilitas politik dan keamanan. Perbaikan system perpolitikan kita serta konsepsi Ketahanan Nasional harus dioperasionalisasikan serta disebarluaskan ke seluruh lapisan masyarakat sehingga diyakini kebenarannya dan pada akhirnya diimplementasikan.
Indonesia yang pada tahun 1998 mengalami instabilitas politik dan keamanan dalam negeri yang kemudian membuat berbagai harga barang kebutuhan pokok menjadi naik dan banyak investor yang mulai menarik investasinya dari Indonesia sehingga menyebabkan krisis. Padahal sebelumnya Indonesia tergolong sebagai macan Asia, yang berarti termasuk dalam negara Asia yang memiliki faktor pertumbuhan ekonomi yang sangat meningkat. Faktor politik dan keamanan tentu saja berada di balik semua itu. Kedua masalah ini mempengaruhi permintaan dan penawaran agregat.
Keamanan yang tidak stabil sangat diyakini telah meruntuhkan permintaan agregat perekonomian Indonesia ketika itu. Dalam situasi seperti Indonesia pada tahun 1998 kita telah menjumpai ciri-ciri ekonomi dalam defresi seperti; menurunnya daya beli secara drastis, lenyapnya minat investasi dan meningkatanya kapasitas yang menganggur di berbagai sektor. Ketidakstabilan politik maupun keamaanan ini juga dapat memicu respons (elastisitas) suplai merosot secara tiba-tiba ketika itu. Ketidakstabilan politik dan keamanan harus dibenahi untuk meningkatkan permintaan. Investasi swasta terganjal oleh confidence bagi para pelaku ekonomi yang semakin menurun. Akibatnya ekonomi Indonesia pada saat itu yang diharapkan tumbuh dan lebih berkualitas hanya dapat meningkat secara marginal dalam nilai. Determinant peningkatan investasi swasta tergantung pada keberhasilan dalam menstimulir situasi politik dan keamanan yang kondusif dalam rangka menghilangkan hambatan sisi supply. Stimulasi sisi supply adalah bagaimana kita dapat menghilangkan hambatan politik dan keamanan.
Politik dan keamanan yang tidak stabil pada hakekatnya akan mendatangkan dua hambatan utama bagi para pelaku ekonomi yaitu premi resiko (risk premium) yang tinggi, dan biaya transaksi (transaction cost) yang tinggi. Premi resiko yang tinggi dan biaya transaksi yang tinggi adalah refleksi dari confidence yang rendah yang diakibatkan oleh tidak stabilnya politik dan keamanan.
Komentar
Posting Komentar